Skip to main content

Featured post

Pagi Ini, Kita Bangun Lagi

Sesuatu yang Tidak Pergi

Sesuatu yang Tidak Pergi

Sesuatu yang Tidak Pergi

Sebuah esai tentang Punch, bayi makaka Jepang di Kebun Binatang Ichikawa, dan boneka orangutan yang tidak pernah meninggalkannya.


I. Pelukan

Bulu itu tidak sempurna.

Terlalu sintetis. Terlalu rata. Tidak ada aroma yang seharusnya ada — tidak ada kehangatan yang datang dari dalam, tidak ada denyut yang bisa dirasakan kalau kamu menekan wajahmu cukup dalam. Tapi Punch menekannya juga. Setiap kali. Dengan cara yang sama. Dengan intensitas yang tidak berubah dari hari ke hari.

Jari-jarinya kecil. Sekecil yang bisa kamu bayangkan — kuku yang hampir transparan, ruas yang belum sepenuhnya terbentuk, tapi menggenggam dengan kekuatan yang tidak proporsional dengan ukurannya. Seperti sesuatu yang tahu bahwa ini satu-satunya hal yang ada. Seperti sesuatu yang tidak mau salah hitung.

Di luar kandang, musim bergerak. Chiba di bulan Februari punya dingin yang pelan — bukan dingin yang menyerang, tapi dingin yang meresap, yang masuk melalui celah-celah kecil dan tinggal di sana lama setelah matahari datang. Suara kebun binatang mengisi udara dari jauh: langkah pengunjung, suara burung yang tidak bisa dilihat, sesekali teriakan dari kandang lain yang tidak ada artinya dari sini.

Punch tidak mendengar semua itu.

Ia hanya tahu bulu itu ada di bawah jari-jarinya. Ia hanya tahu kalau ia menekan cukup dalam, ada sesuatu yang tidak bergerak pergi.


Ini bukan tentang cinta. Terlalu dini untuk menyebutnya begitu, dan mungkin kita tidak punya kata yang tepat untuk apa yang dialami oleh makhluk berusia tujuh bulan yang belum pernah belajar bahwa ada kata-kata untuk perasaan. Ini tentang sesuatu yang lebih mendasar dari cinta — sesuatu yang ada sebelum bahasa, sebelum kesadaran, sebelum kita belajar memberi nama pada rasa yang bersarang di dada.

Ini tentang ada dan tidak ada.

Tentang sesuatu yang tetap.

Dan boneka itu — dengan bulu sintetisnya yang mulai sedikit lusuh di bagian dada, dengan jahitan yang mungkin tidak akan bertahan seumur hidup, dengan mata plastik yang tidak pernah berkedip dan tidak pernah menatap balik — boneka itu tetap ada.

Setiap hari. Tanpa pengecualian. Tanpa alasan untuk pergi.


II. Sebelum — Yang Tidak Datang

Lahir pada 26 Juli.

Musim panas di Jepang bukan musim panas yang mudah. Udaranya berat, penuh dengan kelembapan yang menempel di kulit seperti lapisan kedua. Di Kebun Binatang Kota Ichikawa, di prefektur Chiba, seekor makaka Jepang baru saja menyelesaikan sesuatu yang sangat melelahkan — persalinan pertamanya, di bawah terik yang tidak kenal kompromi.

Yang terjadi setelahnya tidak ada yang menyaksikan dengan utuh. Hanya hasilnya yang bisa dilihat: bayi itu ada. Induknya ada. Tapi jarak antara keduanya — jarak yang seharusnya tidak ada, yang seharusnya sudah tertutup oleh naluri dan kehangatan — jarak itu tetap ada.

Induknya tidak datang.

Bukan dalam arti ia pergi ke tempat lain. Ia ada di sana, secara fisik, di dalam ruang yang sama. Tapi ada perbedaan besar antara ada secara fisik dan hadir. Perbedaan itu bisa diukur — oleh bayi yang baru lahir, yang seluruh sistem tubuhnya sedang mencari satu hal spesifik dan tidak menemukannya.

Kehangatan yang seharusnya melingkupi. Aroma yang seharusnya menjadi koordinat pertama di dunia. Permukaan yang seharusnya bergerak naik turun mengikuti napas.

Tidak ada.

Ada sesuatu yang terjadi dalam diri makhluk yang sangat muda ketika hal yang paling dibutuhkannya tidak datang. Bukan kepanikan — terlalu dini untuk kepanikan. Bukan kesedihan — terlalu dini untuk kesedihan. Sesuatu yang lebih primitif dari itu: sebuah pertanyaan yang tidak memiliki kata-kata, yang hanya bisa dirasakan sebagai kekosongan di tempat yang seharusnya penuh.

Di mana.

Di mana sesuatu yang seharusnya ada di sini.


Kawanan ada di sekitarnya.

Monyet-monyet lain bergerak dengan ritme yang sudah mereka kenal sejak lama — hierarki yang tidak perlu dijelaskan, aturan yang tidak perlu ditulis, hubungan yang sudah terbentuk jauh sebelum Punch ada. Mereka bukan makhluk yang jahat. Mereka hanya makhluk yang memiliki dunia mereka sendiri, dengan perhatian yang sudah terbagi ke banyak hal yang lebih akrab.

Bayi yang baru lahir, yang tidak berbau seperti siapa pun di antara mereka, yang tidak punya tempat di dalam jaringan sosial yang sudah lama terbentuk — bayi itu ada di pinggir. Ada tapi tidak terlihat. Hadir tapi tidak dihitung.

Keramaian yang terasa seperti dinding.

Punch tidak tahu cara mendeskripsikan ini. Tapi tubuhnya tahu. Tubuhnya terus mencari — dengan gerakan-gerakan kecil yang tidak bisa dikendalikan, dengan jari-jari yang menggenggam udara, dengan kepala yang terus berbalik ke arah yang tidak ada apa-apanya.

Mencari sesuatu yang tidak datang.


III. Dua Orang yang Tidak Tahu Harus Apa

Kosuke Shikano dan Shumpei Miyakoshi datang setiap pagi.

Ini bukan kalimat yang heroik. Ini hanya fakta — dua orang dengan pekerjaan yang sudah mereka pilih, yang pada suatu hari menemukan seekor bayi makaka yang tidak ada yang merawatnya, dan memutuskan untuk tetap ada.

Keputusan itu mungkin tidak terasa seperti keputusan besar pada saat itu. Mungkin terasa seperti satu-satunya hal yang bisa dilakukan. Tapi ada sesuatu yang perlu diakui tentang orang-orang yang terus datang meskipun mereka tahu bahwa kehadiran mereka tidak cukup — yang terus mencoba meskipun mereka tahu bahwa apa yang mereka berikan tidak bisa menggantikan apa yang seharusnya ada.

Inkubator dipasang. Cahaya buatan menggantikan kehangatan induk. Tangan manusia — besar, berbau berbeda, bergerak dengan cara yang tidak familiar — mencoba memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh tangan manusia.

Bayi makaka, secara naluriah, perlu berpegangan. Ini bukan keinginan. Ini bukan preferensi. Ini kebutuhan biologis yang sama mendasarnya dengan bernapas — tubuh yang mencari permukaan, jari-jari yang perlu merasakan sesuatu untuk digenggam, sistem saraf yang membutuhkan input tekstur sebagai konfirmasi bahwa ia tidak sendirian di ruang kosong.

Mereka mencoba handuk yang digulung. Teksturnya salah — terlalu lembut, terlalu datar, tidak punya kontur yang bisa dipeluk. Mereka mencoba hal-hal lain yang tidak tercatat namanya, yang mungkin mereka sendiri sudah lupa karena semuanya tidak berhasil.

Dan setiap kali sesuatu tidak berhasil, mereka mencoba lagi.

Bukan karena mereka yakin akan menemukan jawabannya. Tapi karena pagi berikutnya tetap datang, dan Punch tetap ada, dan tidak mencoba lagi bukan pilihan yang bisa mereka pertimbangkan.


Tidak ada yang pernah bertanya pada Kosuke dan Shumpei apa yang mereka rasakan setiap hari, menyaksikan ini.

Mungkin tidak ada kata yang tepat untuk itu juga.

Ada jenis lelah yang tidak bisa diukur dengan jam tidur — lelah yang datang dari menyaksikan sesuatu yang tidak bisa kamu perbaiki, dari terus melakukan yang bisa kamu lakukan meskipun kamu tahu itu tidak cukup. Mereka datang setiap pagi. Mereka mengisi inkubator. Mereka memastikan ada sesuatu untuk dipegang.

Dan mungkin, di akhir hari, itu yang bisa dilakukan oleh siapa pun — datang. Tetap ada. Melakukan yang kecil-kecil dengan konsisten, meskipun yang kecil-kecil itu tidak bisa mengisi tempat yang besar.


IV. Boneka — Sesuatu yang Ditemukan

Tidak ada momen dramatis ketika boneka orangutan itu pertama kali diberikan.

Tidak ada musik latar, tidak ada sorotan cahaya, tidak ada orang yang berdiri di pintu sambil memegang boneka itu dan tahu bahwa ini akan mengubah segalanya. Mungkin salah satu dari mereka hanya membawanya masuk — sebuah boneka dengan bulu yang teksturnya berbeda dari handuk, dengan bentuk yang memiliki kontur, dengan ukuran yang kira-kira bisa dirangkul oleh tubuh kecil yang terus mencari sesuatu untuk dirangkul.

Dan Punch mengambilnya.

Tidak melepaskannya lagi.


Ada yang spesifik tentang bulu boneka itu yang berbeda dari semua yang sudah dicoba sebelumnya. Bukan soal keindahan atau kualitas — ini boneka orangutan DJUNGELSKOG dari IKEA, bukan sesuatu yang dibuat untuk tujuan ini. Tapi ada tekstur yang cukup — tidak terlalu halus sampai terasa seperti kain biasa, tidak terlalu kasar sampai menolak sentuhan. Ada kepadatan yang cukup ketika jari-jari kecil menekannya, ada resistensi yang memberi umpan balik: aku ada, kamu menekanku, aku merespons dengan tetap ada.

Punch menekan wajahnya ke dalam bulu itu.

Dan sesuatu di dalam sistem tubuhnya yang selama ini terus mengirim sinyal — di mana, di mana, di mana — menjadi sedikit lebih pelan.

Bukan berhenti. Tapi lebih pelan.


Boneka itu tidak hangat. Tidak bernapas. Tidak akan pernah mengenali Punch, tidak akan pernah mengingat bahwa ada makhluk kecil yang datang kepadanya setiap hari dan menekan wajahnya ke dalam bulunya. Boneka itu tidak punya kapasitas untuk mengenal, untuk mengingat, untuk peduli.

Dan mungkin itulah yang membuatnya sempurna.

Ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari pilihan yang dibuat oleh tubuh-tubuh yang belum belajar berbohong pada dirinya sendiri — tubuh yang terlalu muda untuk menginginkan sesuatu demi alasan yang salah, yang hanya mencari apa yang paling mendasar. Punch tidak memilih boneka itu karena boneka itu bisa memberikan cinta. Punch memilih boneka itu karena boneka itu ada. Karena boneka itu tidak berubah pikiran. Karena boneka itu tidak punya hari buruk, tidak punya batas kesabaran, tidak punya kepentingan lain yang membuatnya pergi.

Boneka itu hanya ada.

Dan ada — kehadiran yang konsisten, permukaan yang selalu ada ketika dibutuhkan — itu sesuatu yang nilainya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata kepada siapa pun yang belum pernah mencarinya.


Kita semua pernah menemukan versi boneka itu. Dalam berbagai bentuk, berbagai ukuran, berbagai tingkat kesadaran tentang apa yang sedang kita lakukan. Buku yang selalu ada di malam-malam tertentu. Lagu yang diputar berulang sampai baterainya habis. Sudut sofa yang spesifik. Mug yang sama setiap pagi. Seseorang yang tidak selalu mengerti tapi selalu mengangkat telepon.

Hal-hal yang tidak pergi.

Hal-hal yang ada di sana ketika kita menekan tangan kita ke arahnya, dan tidak bergerak menjauh.

Tulisan ini tidak akan menyebutkan ini lagi. Tapi mungkin kamu sudah tahu ke mana kalimat itu pergi sebelum kamu selesai membacanya.


V. Kawanan — Dunia yang Menjadi Dirinya Sendiri

Januari datang.

Para penjaga memutuskan sudah waktunya. Pada 19 Januari 2026, Punch mulai diperkenalkan ke kawanan di Monkey Mountain — tidak karena mereka yakin Punch siap, tapi karena ada hal-hal yang hanya bisa dipelajari dengan masuk ke dalam dunia yang sebenarnya, meskipun dunia yang sebenarnya tidak selalu ramah.

Pintu kandang dibuka.

Kawanan ada di sana — dengan hierarki mereka yang sudah lama terbentuk, dengan aturan yang tidak tertulis tapi semua orang tahu, dengan ruang sosial yang sudah penuh dan tidak meninggalkan tempat yang jelas untuk satu makhluk baru yang berbau berbeda dan bergerak dengan cara yang belum familiar.

Mereka bukan makhluk yang jahat. Ini perlu diulang, karena mudah untuk lupa. Mereka hanya makhluk yang hidup di dalam sistem yang sudah ada sebelum Punch lahir dan akan terus ada. Hierarki primata bukan tentang kekejaman — ia tentang ketertiban, tentang siapa yang berdiri di mana di dalam struktur yang membuat kehidupan kelompok bisa berjalan.

Punch tidak punya tempat di dalam struktur itu.

Belum.


Dorongan pertama terjadi dengan cepat — tiba-tiba dan tanpa peringatan, seperti semua hal di dalam dunia yang tidak tahu bahwa kamu baru tiba dan belum tahu aturan mainnya.

Punch berlari.

Bukan lari yang jauh — hanya beberapa langkah, sampai punggungnya menyentuh sesuatu yang familiar. Bulu yang sudah mulai sedikit berbeda teksturnya dari hari pertama. Jahitan yang sudah merasakan berat dari pelukan yang berulang. Mata plastik yang tidak pernah berkedip.

Punch menekan wajahnya ke dalam bulu itu.

Dan dunia yang keras dan bergerak di luar sana tetap ada di luar sana, sementara di sini — di dalam pelukan yang tidak bisa membalas — ada sesuatu yang tidak bergerak.


Ini terjadi berulang.

Kawanan mendorong, Punch kembali ke boneka. Kawanan mengintimidasi dengan cara yang tidak perlu diterjemahkan — dengan postur, dengan tatapan, dengan kehadiran yang mengatakan kamu belum punya tempat di sini — dan Punch kembali ke boneka. Boneka itu dibawa ke mana-mana, ditarik ke sisi yang berbeda dari kandang, diletakkan di tanah ketika Punch mencoba mendekati kawanan, diambil lagi ketika kawanan tidak menerima pendekatannya.

Boneka itu menjadi semacam koordinat.

Titik yang selalu bisa ditemukan kembali. Tempat yang selalu ada. Di dalam dunia yang terus bergerak dan menolak dan mendorong, ada satu hal yang tidak melakukan itu — satu hal yang posisinya di dalam hidup Punch tidak pernah berubah.


Para penjaga menyaksikan ini setiap hari.

Mereka tidak mengintervensi, karena mereka tahu bahwa apa yang terjadi — meskipun menyakitkan untuk dilihat — adalah bagian dari proses. Dalam pernyataan resminya, kebun binatang menjelaskan: "Meskipun Punch telah berkali-kali dimarahi oleh monyet lain, tidak ada satu pun monyet yang menunjukkan agresi serius terhadapnya. Ia menunjukkan ketahanan dan kekuatan mental."

Tapi ada sesuatu yang berbeda antara memahami ini secara intelektual dan menyaksikannya setiap hari — antara tahu bahwa ini perlu terjadi dan melihat makhluk kecil itu terus berlari kembali ke bonekanya setiap kali dunia mendorongnya.

Kosuke dan Shumpei datang setiap pagi.

Mereka menyaksikan. Mereka mencatat. Mereka melakukan hal-hal kecil yang bisa mereka lakukan. Dan mungkin, di dalam diam pekerjaan mereka sehari-hari, ada sesuatu yang tidak bisa mereka katakan dengan keras — bahwa menyaksikan ini selama berminggu-minggu meninggalkan sesuatu di dalam diri mereka yang tidak bisa dibersihkan sepenuhnya oleh istirahat dan akhir pekan.

Mungkin kita tidak perlu tahu apa itu sesuatu. Mungkin cukup untuk mengakui bahwa menyaksikan seseorang terus mencari tempat di dalam dunia yang belum siap menerimanya — dan terus kembali ke satu-satunya hal yang tidak menolaknya — itu meninggalkan jejak.

Pada siapa pun yang menyaksikannya.


VI. Layar-Layar di Seluruh Dunia

Pada 5 Februari 2026, akun resmi kebun binatang Ichikawa di X mengunggah sebuah foto.

Foto itu tidak dramatis. Tidak ada komposisi yang disengaja, tidak ada pencahayaan yang dirancang untuk memaksimalkan dampak emosional. Hanya Punch — kecil, dengan bulu abu-abu yang belum sepenuhnya dewasa — memeluk boneka orangutan yang ukurannya hampir sama dengannya.

Foto itu dibagikan lebih dari delapan ribu kali dalam waktu yang sangat singkat. Klip-klip video Punch kemudian melampaui 30 juta tayangan di TikTok dan Instagram.


Ada sesuatu yang terjadi ketika sebuah gambar menyebar seperti itu. Bukan karena semua orang yang membagikannya bisa menjelaskan mengapa. Sebagian besar dari mereka mungkin tidak bisa — mereka hanya melihat foto itu, berhenti, merasakan sesuatu di tempat yang tidak selalu bisa dinamai, dan menekan tombol bagikan.

Di Tokyo seseorang membuka ponselnya di kereta dan berhenti scroll.

Di Seoul seseorang yang sedang makan malam sendirian menaruh sumpinya.

Di kota-kota lain di dunia yang tidak pernah mendengar nama Ichikawa, yang tidak tahu apa itu makaka Jepang, yang tidak pernah berpikir tentang hierarki primata — seseorang melihat foto itu dan merasakan sesuatu yang cukup kuat untuk membuatnya berhenti.

Mengapa?

Pertanyaan itu tidak perlu dijawab di sini. Tapi mungkin ada sesuatu yang bisa dikatakan tentang gambar-gambar yang menembus batas bahasa dan geografi dan konteks budaya — tentang cara tertentu sebuah gambar bisa menyentuh sesuatu yang ada di dalam semua orang, sesuatu yang tersimpan di tempat yang lebih dalam dari kata-kata.

Punch tidak tahu ada jutaan orang yang melihatnya. Boneka itu juga tidak tahu. Mereka hanya ada — di kandang kecil di Chiba, dalam ritme hari yang terus berputar — sementara di tempat lain, di layar-layar yang bersinar dalam kegelapan kamar dan cahaya tengah hari kantor dan sela-sela perjalanan, sesuatu yang dirasakan oleh Punch menemukan gema di dalam dada orang-orang yang tidak pernah ia temui.


IKEA Jepang mengirim 33 boneka baru — termasuk pengganti-pengganti untuk boneka orangutan yang sudah mulai lusuh itu. CEO IKEA Japan, Petra Färe, bahkan datang langsung ke kebun binatang pada 17 Februari untuk menyerahkan donasi kepada Wali Kota Ichikawa, Ko Tanaka.

Ini fakta yang kecil. Tapi ada sesuatu yang menarik tentang fakta kecil ini — bahwa sebuah perusahaan furnitur, yang tidak punya kepentingan bisnis langsung dengan seekor bayi monyet di kebun binatang Chiba, memutuskan untuk mengirimkan sesuatu. Bahwa seseorang di sana melihat foto itu, dan mengambil keputusan yang mungkin tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan logika bisnis.

Mungkin ini hanya PR yang baik.

Atau mungkin ada sesuatu lain — sesuatu tentang cara gambar Punch menyentuh sesuatu yang cukup dalam sampai respons yang keluar bukan kalkulasi, tapi sesuatu yang lebih dekat dengan naluri.

Kita tidak perlu memutuskan mana yang benar. Keduanya mungkin benar sekaligus. Dan di antara keduanya, ada ruang yang cukup untuk menemukan diri kita sendiri.


VII. Tetap Ada

Februari.

Salah satu monyet di kawanan mendekati Punch dengan cara yang berbeda.

Bukan dengan dorongan, bukan dengan intimidasi — dengan gerakan yang lebih pelan, dengan postur yang kurang mengancam, dengan pendekatan yang memberikan Punch cukup waktu untuk tidak berlari. Dan kemudian — grooming. Jari-jari yang bergerak melalui bulu, mencari-cari dengan teliti, dengan cara yang sudah dilakukan oleh makaka selama jutaan tahun sebagai bahasa yang tidak perlu kata-kata.

Ini terjadi untuk pertama kalinya.

Satu monyet. Satu momen. Satu sentuhan yang berbeda dari semua sentuhan sebelumnya.


Punch tidak melepaskan bonekanya.

Boneka itu masih ada di tangan yang lain — digenggam dengan cara yang sama, dengan kekuatan yang sama, dengan keteguhan yang tidak berubah meskipun sekarang ada sesuatu yang baru di dunia Punch: sebuah kemungkinan bahwa tidak semua hal di luar sana mendorong.

Bahwa mungkin ada tempat, di suatu titik, di dalam kawanan yang luas dan kompleks itu.

Tapi boneka itu masih ada di tangannya. Masih lusuh di bagian yang sama. Masih membawa jejak dari semua hari sebelumnya.


Dunia memang begini.

Tidak ada kalimat yang bisa membuat ini terasa lebih baik atau lebih buruk dari yang sebenarnya. Tidak ada yang hilang kembali hanya karena kita ingin ia kembali. Tidak semua yang ada di sekitar kita melihat kita dengan cara yang kita butuhkan untuk dilihat. Ada struktur yang sudah ada sebelum kita lahir, aturan yang tidak kita buat, tempat-tempat di dalam tatanan dunia yang tidak menyisakan ruang untuk kita — bukan karena ada yang jahat, tapi karena dunia tidak selalu membuatkan ruang untuk semua orang sebelum mereka belajar cara membuat ruangnya sendiri.

Punch sedang belajar itu.

Setiap hari, dengan dorongan dan grooming pertama dan semua momen di antaranya, ia sedang belajar cara ada di dalam dunia yang tidak langsung menerimanya.

Dan setiap hari, setelah belajar itu, ia kembali ke boneka.


Tidak ada resolusi yang rapi di sini.

Ini bukan cerita tentang kemenangan — tentang bayi monyet yang akhirnya sepenuhnya diterima, yang akhirnya tidak membutuhkan bonekanya lagi, yang akhirnya menemukan tempat yang sempurna di dalam kawanannya dan hidup bahagia. Hidup jarang bekerja seperti itu, dan cerita yang bekerja seperti itu biasanya berbohong tentang sesuatu.

Ini hanya cerita tentang ada.

Tentang satu makhluk kecil yang, meskipun dunia tidak selalu siap menerimanya, tetap ada. Yang datang setiap hari ke tepi kawanannya dan mencoba. Yang kembali ke bonekanya ketika dunia terlalu besar. Yang membawa boneka itu ke mana-mana — bukan karena tidak tahu bahwa boneka itu bukan induk, bukan kawanan, bukan hal yang sebenarnya — tapi karena ada hal-hal yang kita pegang bukan karena kita tidak tahu bedanya, tapi karena kita perlu memegang sesuatu untuk bisa tetap berdiri.


Malam di kebun binatang Ichikawa pasti sunyi.

Pengunjung sudah pulang. Lampu-lampu sudah diredupkan. Suara-suara yang mengisi siang hari — langkah kaki, tawa anak-anak, suara panduan audio yang berputar — semua itu sudah pergi.

Yang tersisa adalah suara-suara yang selalu ada: napas, gerakan kecil, kehidupan yang terus berlangsung dalam gelap.

Punch ada di sana.

Dengan bonekanya.

Jari-jari yang kecil — dengan kuku yang hampir transparan, dengan ruas yang perlahan-lahan tumbuh menjadi lebih kuat — menggenggam bulu yang sudah familiar sampai ke tingkat molekular. Bulu yang sudah menyimpan semua hari sebelumnya. Bulu yang tidak akan pergi malam ini.

Dan itu cukup untuk sekarang.

Esok pagi akan datang dengan kawanannya yang kompleks, dengan penjaganya yang setia, dengan dunia yang tidak selalu tahu cara menyambut seseorang yang baru tiba. Tapi malam ini ada bulu di bawah jari-jari, ada berat yang familiar, ada sesuatu yang tidak bergerak pergi.

Punch ada.

Dengan caranya sendiri, dengan bonekanya, dengan semua yang belum selesai dan mungkin tidak akan pernah selesai dengan rapi — ia ada.

Dan itu, pada akhirnya, adalah satu-satunya hal yang perlu dikatakan.


Punch, atau Panchi-kun (パンチくん), adalah bayi makaka Jepang jantan yang lahir 26 Juli 2025 di Kebun Binatang dan Taman Botani Kota Ichikawa, Prefektur Chiba, Jepang. Perkembangan terakhirnya bisa diikuti di akun resmi kebun binatang: @ichikawa_zoo.

Popular Posts