Skip to main content

Featured post

Pagi Ini, Kita Bangun Lagi

Yang Menjaga Masa Depan - Cerpen tentang Keberanian Sunyi

Yang Menjaga Masa Depan - Cerpen tentang Keberanian Sunyi

Yang Menjaga Masa Depan

Sebuah cerpen tentang keberanian yang lahir bukan dari hilangnya rasa takut, tetapi dari tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan.


Hari Pertama: Pagi yang Seperti Biasa

Ardan bangun sebelum adzan subuh. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 4.30. Ia berbaring sejenak, menatap langit-langit kontrakan yang mengelupas di beberapa sudut. Suara napas ayahnya terdengar berat dari kamar sebelah.

Ia bangkit, menyalakan kompor gas yang sudah hampir habis. Air untuk bubur ayahnya mendidih pelan. Ardan mengaduknya dengan sendok plastik yang retak di bagian pegangan—sendok yang sama sejak tiga tahun lalu.

Di kamar, ayahnya terbaring dengan mata terbuka. Ardan menyuapinya pelan. Satu sendok, dua sendok. Ayahnya tidak bicara, hanya menatap langit-langit. Kadang ia menelan, kadang tidak. Ardan menunggu dengan sabar.

"Pak, nanti siang saya pulang sebentar," kata Ardan pelan. Tidak ada jawaban. Tidak pernah ada sejak stroke dua tahun lalu.

Setelah selesai, Ardan mencuci sendok itu di bak kamar mandi. Ia mengeringkannya dengan ujung kaus, lalu menaruhnya kembali di rak. Tangannya bergerak otomatis—sudah ratusan kali melakukan hal yang sama.

Dari dalam kamar, suara Dira terdengar: "Kak, aku berangkat dulu ya."

"Udah sarapan?"

"Udah."

Ardan tahu itu bohong. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.

Setelah pintu ditutup, Ardan duduk di kursi plastik di ruang tamu. Ia membuka dompet—uang receh dan beberapa lembar dua puluh ribuan. Total: Rp 127.000. Ia menatapnya lama.

Uang sekolah Dira: Rp 450.000. Tenggat: tiga hari lagi.

Ardan memasukkan uang itu kembali, menutup dompet, lalu mengambil helm kurir yang tergantung di paku tembok. Jaket hijau dengan logo aplikasi online sudah pudar di bagian punggung.

Ia mengecek HP. Dua puluh tiga pesanan hari ini.

Ardan keluar, mengunci pintu, lalu menyalakan motor.


Siang di Jalan

Pukul 11 siang, matahari sudah tegak di atas kepala. Helm Ardan berbau keringat. Ia berhenti di lampu merah, mengelap wajah dengan ujung jaket. Di sebelahnya, sebuah mobil sedan hitam berhenti. Kaca jendela terbuka—di dalam, seorang anak perempuan seusia Dira tertawa sambil memegang es krim.

Ardan melihat sebentar.

Lampu hijau menyala. Ia melajukan motor.

Pesanan kesembilan belas—paket buku ke daerah perumahan. Customer menunggu di depan pagar dengan wajah kesal.

"Lama banget, Mas. Udah telat 20 menit."

"Maaf, Bu. Macet."

Sebenarnya Ardan berhenti sebentar di warung untuk beli air mineral. Kepalanya pusing. Tapi ia tidak bilang itu.

Setelah customer pergi, HP-nya berbunyi. Rating turun. Pendapatan dikurangi Rp 15.000.

Ardan menatap layar itu. Lalu ia mengecek saldo: Rp 112.000.

Ia menyalakan motor lagi.

Menurut penelitian dari International Labour Organization, pekerja informal seperti kurir online sering menghadapi tekanan ekonomi yang tinggi dengan jaminan sosial yang minim—realitas yang dialami jutaan orang setiap hari.


Hari Kedua: Malam, Dira Pulang Telat

Jam 8 malam. Ardan sudah pulang sejak jam 7. Ia baru selesai memandikan ayahnya, mengganti pakaian, dan menyuapinya makan malam.

Dira belum pulang.

Ardan mengecek HP. Tidak ada pesan. Ia menelepon. Tidak diangkat.

Jam 8.30, pintu terbuka. Dira masuk dengan tas sekolah di punggung. Matanya sedikit merah.

"Dari mana?" tanya Ardan.

"Les."

"Les sampai jam segini?"

Dira tidak menjawab. Ia masuk ke kamar, menutup pintu pelan.

Ardan berdiri di depan pintu kamar itu. Tangannya terangkat, hampir mengetuk. Tapi ia menurunkannya lagi. Ia kembali ke ruang tamu, duduk di kursi plastik, menatap pintu kamar Dira.

Malam itu, Ardan tidak bisa tidur.

Ia menghitung ulang uang di dompet: Rp 98.000. Sudah dikurangi untuk beli obat ayah sore tadi. Besok harus dapat minimal Rp 150.000.

Dua hari lagi.


Hari Ketiga: Pagi, Konfrontasi Sunyi

Ardan bangun lebih pagi. Ia menyiapkan bubur seperti biasa. Dira keluar dari kamar, duduk di kursi dengan diam.

"Kak," katanya pelan.

Ardan menoleh.

"Aku mau bilang sesuatu."

Ardan menunggu. Tangannya berhenti mengaduk bubur.

"Kemarin aku ke rumah temen," kata Dira. "Ibunya nawarin aku les privat gratis. Katanya kasihan lihat aku..."

Dira berhenti. Ardan masih menunggu.

"Aku bilang nggak usah. Soalnya... aku tahu Kakak udah—"

"Dira."

Dira mengangkat kepala.

"Kamu nggak perlu nolak gara-gara gue," kata Ardan.

Keheningan.

"Tapi uang sekolahnya—"

"Urusan gue."

Dira menunduk. Air matanya jatuh ke meja, tapi ia tidak bersuara.

Ardan tidak memeluknya. Ia hanya duduk di kursi sebelahnya, diam.

Setelah beberapa saat, Ardan mengambil piring Dira yang masih penuh, lalu membawanya ke bak cuci piring. Ia mencuci piring itu lebih lama dari biasanya.

Dalam kehidupan nyata, dinamika keluarga yang menghadapi tekanan ekonomi sering kali melibatkan komunikasi diam yang lebih berbicara daripada kata-kata—sebuah fenomena yang dikaji dalam psikologi keluarga.


Sore, Keputusan

Ardan bekerja lebih keras hari itu. Tiga puluh lima pesanan. Ia tidak istirahat makan siang.

Pukul 3 sore, hujan turun.

Jas hujan Ardan bocor di bagian punggung. Air masuk, membasahi kaus. Tapi ia tetap jalan.

Pukul 5 sore, motor mogok di tengah jalan. Ardan turun, mendorong motor ke pinggir jalan. Lima belas menit ia dorong sendiri sampai ke bengkel terdekat.

"Busi mati, Mas," kata tukang bengkel. "Lima puluh ribu."

Ardan mengangguk.

Saldo: Rp 243.000.

Saat menunggu motor diperbaiki, HP-nya berbunyi. Pesan dari nomor tidak dikenal.

"Mas, ada job khusus. Antar barang dari A ke B, nggak perlu tahu isinya. Bayaran 300rb. Mau?"

Ardan menatap pesan itu lama.

Jari-jarinya mengetik:

"Maaf, tidak bisa."

Ia menghapus nomor itu, lalu memasukkan HP ke saku.


Malam Itu

Ardan pulang jam 9 malam. Basah kuyup. Jaket, celana, sepatu—semuanya basah.

Ia menghitung uang di dompet: Rp 289.000.

Masih kurang Rp 161.000.

Ia duduk di teras kecil di depan kontrakan, menatap jalan yang sepi. Hujan sudah reda, tapi jalanan masih basah. Lampu jalan di ujung gang berkelap-kelip.

Pintu terbuka. Dira keluar, membawa handuk, menyodorkannya tanpa bicara.

"Makasih," kata Ardan.

Dira duduk di sebelahnya. Mereka berdua diam, menatap jalan.

"Besok aku yang anterin Ayah ke Puskesmas," kata Dira. "Kakak istirahat aja."

Ardan menoleh.

"Aku udah gede, Kak."

Ardan tidak menjawab. Ia hanya menatap adiknya—anak perempuan yang masih 14 tahun tapi sudah bicara seperti orang dewasa.

Mereka duduk berdua dalam diam. Angin malam berhembus pelan, membawa bau tanah basah.


Keesokan Harinya

Pagi. Ardan bangun jam 4.30 seperti biasa.

Tapi Dira sudah bangun lebih pagi. Ia sedang menyuapi ayah di kamar, dengan sendok plastik yang sama.

Ardan berdiri di ambang pintu, melihat pemandangan itu. Dira menoleh, tersenyum kecil.

"Kakak mandi dulu aja. Aku yang jaga Ayah."

Ardan mengangguk pelan.

Setelah mandi dan bersiap, Ardan mengambil helm. Ia mengecek HP: dua puluh delapan pesanan hari ini.

Uang sekolah masih kurang. Tapi hari ini ada dua puluh delapan pesanan. Mungkin cukup. Mungkin tidak.

Dira melambaikan tangan dari jendela.

Ardan mengangguk, lalu menyalakan motor.

Ia pergi.


Catatan Penutup

Keberanian bukanlah tentang hilangnya rasa takut. Keberanian adalah tentang tetap bergerak meskipun takut, meskipun tidak ada jaminan.

Ardan tidak tahu apakah ia akan mendapat cukup uang hari itu. Ia tidak tahu apakah besok akan lebih baik. Tapi ia tetap pergi—karena ada seseorang yang akan jatuh jika ia berhenti.

Inilah keberanian yang sesungguhnya. Bukan yang heroik, bukan yang dirayakan. Tapi yang sunyi, yang harian, yang bertahan dalam kegelapan tanpa menunggu cahaya.

Seperti yang ditulis oleh penulis besar Raymond Carver dalam esai tentang kehidupan kelas pekerja: "Mereka tidak memiliki kata-kata besar untuk menggambarkan perjuangan mereka. Mereka hanya terus berjalan."

Dan itulah yang dilakukan Ardan setiap hari—terus berjalan, untuk menjaga masa depan yang bukan miliknya, tetapi menjadi tanggung jawabnya.


Cerpen ini terinspirasi dari gaya minimalis Raymond Carver dan kehidupan nyata jutaan pekerja informal di Indonesia yang berjuang diam-diam untuk keluarga mereka.

Popular Posts