Skip to main content

Featured post

Pagi Ini, Kita Bangun Lagi

Dalam Hujan, Sosokmu Samar

Dalam Hujan, Sosokmu Samar

Dalam Hujan, Sosokmu Samar

Sebuah prosa liris tentang kenangan yang dibawa hujan. Tulisan ini adalah remake dari cerita sebelumnya, ditulis ulang dengan pendekatan yang lebih contemplatif.


I.

Sore ini hujan datang jam empat lewat dua belas menit. Aku tahu persis waktunya karena sedang menatap jam dinding ketika rintik pertama menyentuh kaca jendela. Ada jeda dua detik sebelum rintik kedua, lalu hujan jatuh sekaligus seperti seseorang yang akhirnya memutuskan untuk menangis.

Bau aspal basah naik dari jalan. Bau yang familiar tapi tak pernah bisa kujelaskan dengan tepat—seperti tanah, tapi bukan tanah. Seperti logam, tapi lebih lembut. Aku berdiri di ambang pintu, membiarkan percikan angin membawa dingin ke ujung jariku.

Jaketmu masih tergantung di gantungan. Jaket biru tua yang kau tinggalkan tiga musim hujan lalu. Aku belum mencucinya.

II.

Kamu berdiri di bawah atap minimarket waktu itu. Kemeja putihmu tembus pandang karena hujan yang tiba-tiba turun saat kamu di tengah jalan. Kau bilang, "Aku pikir hujan akan berhenti." Tapi hujan tidak berhenti. Kita menunggu setengah jam di situ, lalu memutuskan untuk berlari mencari tempat berteduh yang lebih baik.

Kita berakhir di sebuah warung kopi kecil yang hampir tutup. Pemiliknya sedang mengepel lantai tapi membiarkan kita masuk. Kau pesan teh panas, aku pesan kopi. Kita duduk di kursi plastik yang basah, dengan genangan air di bawah sepatu kami. Gelas-gelas kami mengepulkan uap yang naik perlahan, bercampur dengan kabut napas di udara dingin.

"Aku suka hujan seperti ini," katamu sambil menyingkirkan helaian rambut basah dari dahinya. "Hujan yang membuat semua orang terpaksa berhenti."

Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk sambil merasakan kehangatan tubuhmu yang duduk dekat, sangat dekat hingga bahu kami bersentuhan. Di luar jendela, hujan mengetuk-ketuk kaca dengan irama yang tidak teratur. Suara itu membuat dunia terasa lebih kecil, lebih aman. Hanya ada kita, gelas-gelas kami, dan hujan.

Itu terakhir kalinya aku merasa hangat dalam hujan.

III.

Sekarang, hujan masih turun dengan cara yang sama. Rintik-rintik yang menjadi deras, lalu menetap dalam ritme konstan. Tapi sesuatu yang berbeda. Atau mungkin aku yang berbeda.

Kadang aku berdiri di jendela ini dan membayangkan aku melihat sosokmu di ujung jalan. Berdiri di bawah payung hitam, atau mungkin tanpa payung sama sekali seperti dulu. Tapi sosok itu selalu kabur, terhalang garis-garis hujan yang turun terlalu cepat. Semakin lama kutatap, semakin tidak jelas bentuknya. Lalu menghilang sepenuhnya, melebur jadi bagian dari abu-abu sore.

Kamu bilang ada yang harus kau kejar. Sesuatu tentang mimpi dan waktu yang tidak akan kembali. Mimpi-mimpi yang harus dikejar selagi masih muda, katamu. Aku mengangguk waktu itu. Aku selalu mengangguk untuk segala yang kau katakan.

IV.

Aku belajar membuat kopi untuk satu orang. Bukan hal yang sulit sebenarnya—setengah sendok, bukan satu sendok penuh. Air panas secukupnya untuk satu gelas, bukan dua. Tapi tubuh punya memori sendiri. Kadang tanganku masih meraih gelas kedua sebelum ingat tidak ada yang akan meminumnya.

Memori bekerja dengan cara yang aneh. Ia tidak datang dalam bentuk cerita yang lengkap, tapi dalam fragmen-fragmen kecil. Bau teh yang mengepul. Suara sendok yang beradu dengan keramik. Dinginnya tangan yang basah kehujanan. Potongan-potongan yang tidak bisa disusun kembali menjadi utuh, tapi juga tidak bisa dilupakan sepenuhnya.

Aku tidak lagi mengatakan aku baik-baik saja kepada siapa pun yang bertanya. Aku juga tidak mengatakan aku tidak baik-baik saja. Aku hanya mengatakan, "Hari ini aku membuat nasi goreng untuk makan siang," atau "Hari ini aku berjalan di bawah hujan tanpa payung." Kehidupan adalah detail-detail kecil seperti ini. Bukan pernyataan besar tentang bahagia atau sedih.

Kadang aku masih mencari wajahmu di keramaian. Di stasiun, di pasar, di antara orang-orang yang berlarian menghindari hujan. Bukan karena aku mengharapkan kau kembali. Hanya karena mata sudah terbiasa mencari.

V.

Hujan mulai mereda sekarang. Rintiknya berubah jadi tetesan yang jarang, jatuh dari tepi atap dengan bunyi yang berbeda—lebih berat, lebih dalam. Genangan-genangan kecil di jalan memantulkan langit yang masih kelabu.

Aku melihat seorang anak kecil melipat kertas jadi perahu, lalu meletakkannya di aliran air di tepi jalan. Perahu itu berputar-putar sebentar sebelum terseret arus kecil, menghilang di tikungan. Anak itu tertawa, lalu berlari mengejarnya.

Di luar, hujan hampir berhenti. Aku tidak lagi mendengarkan.


Catatan penulis: Prosa ini terinspirasi dari cara Haruki Murakami menulis tentang kehilangan dengan kesederhanaan yang mendalam, kehangatan metafora alam ala Pablo Neruda, dan kejujuran emosional Ocean Vuong. Tentang bagaimana hujan tidak selalu membawa kesedihan—kadang ia hanya hujan, dan kita hanya manusia yang belajar berdamai dengan memori.

Popular Posts