Featured post
- Get link
- X
- Other Apps
Surat dari Neraka: Konfesi Seorang yang Pernah Mati karena Fentanyl
Surat dari Neraka: Konfesi Seorang yang Pernah Mati karena Fentanyl
"Namaku Alex. Dua tahun lalu, saya mati selama 4 menit karena fentanyl. Ini adalah cerita bagaimana saya kembali dari kematian, dan mengapa saya ingin Anda tidak pernah mengalami neraka yang sama."
Hari Ketika Saya Memutuskan untuk Bunuh Diri (Tanpa Sadar)
Saya tidak pernah bermimpi akan menulis kalimat ini, tapi inilah kenyataannya: saya pernah mati.
Bukan metafora. Bukan kiasan. Saya benar-benar mati selama 4 menit 23 detik di lantai kamar mandi apartemen kumuh di Jakarta Barat, dengan wajah biru dan mata melotot kosong.
Itu hari Selasa, 15 Maret 2022. Hari ketika saya memutuskan—tanpa sadar—untuk mengakhiri hidup saya dengan sebutir pil kecil yang saya kira adalah OxyContin biasa.
Saya tidak tahu bahwa pil itu mengandung fentanyl. Saya tidak tahu bahwa saya sedang menelan kematian.
Awal yang Tidak Pernah Saya Duga: Dari Obat Dokter ke Racun Jalanan
"Hanya untuk Mengatasi Sakit Punggung"
Cerita saya dimulai seperti jutaan cerita lain—tidak dramatis, tidak mencolok. Saya pekerja kantoran biasa yang mengalami sakit punggung kronis setelah kecelakaan motor kecil. Dokter memberikan resep codeine, lalu tramadol, lalu oxycodone.
Pada awalnya, obat-obat itu adalah penyelamat. Nyeri hilang, saya bisa bekerja normal, hidup terasa indah lagi.
Tapi kemudian resep habis. Dokter menolak memberikan lagi. "Sudah cukup," katanya. "Anda bisa kecanduan."
Kecanduan? Saya tertawa dalam hati. Saya bukan pecandu jalanan. Saya sarjana, punya pekerjaan tetap, keluarga yang baik. Saya hanya butuh obat untuk sakit punggung.
Betapa naifnya saya.
Spiral Menuju Kegelapan
Tanpa obat dokter, sakit punggung kembali menyerang. Tapi yang lebih mengerikan adalah perasaan gelisah yang tidak bisa dijelaskan—seolah ada yang hilang dari hidup saya.
Teman kantor membisikkan solusi: "Ada yang jual OxyContin asli, langsung dari apotek. Harganya memang agak mahal, tapi ampuh."
Ini adalah momen pertama saya menjual jiwa pada setan.
Pil pertama yang saya beli dari "supplier terpercaya" itu bekerja sempurna. Nyeri hilang, perasaan cemas lenyap. Saya merasa seperti manusia normal lagi.
Yang tidak saya sadari: pil itu sudah mulai dicampur dengan fentanyl dalam dosis kecil. Cukup kecil untuk tidak membunuh langsung, tapi cukup untuk membuat saya ketagihan lebih cepat dari opioid biasa.
Dalam 3 bulan, saya berubah dari pasien yang waras menjadi budak fentanyl.
Kehidupan di Neraka: Ketika Fentanyl Menguasai Segalanya
Bangun Tidur, Pikiran Pertama: Di Mana Pil Berikutnya?
Mari saya ceritakan seperti apa rasanya hidup sebagai budak fentanyl:
05:00 - Bangun dalam keringat dingin. Tubuh berteriak minta fentanyl. Bukan karena sakit punggung lagi—itu sudah lama hilang sebagai alasan. Tubuh saya berteriak karena dia tahu: tanpa fentanyl, dia akan menyiksa saya sepanjang hari.
05:30 - Cek sisa pil di dompet. Jantung berdebar. Tinggal 2 pil. Berarti harus mencari dealer hari ini juga, atau besok saya akan merasakan neraka putus obat.
06:00 - Minum pil pertama hari itu. Dalam 10 menit, dunia berubah dari hitam putih menjadi berwarna lagi. Saya bisa bernapas. Saya bisa tersenyum. Saya merasa... normal.
12:00 - Efek mulai pudar. Kecemasan creeping in. Perut mual. Tangan berkeringat. Waktu untuk pil kedua.
18:00 - Pulang kantor, langsung ke dealer. Tidak peduli hujan, macet, atau deadline. Prioritas nomor satu: dapat stock fentanyl untuk besok.
22:00 - Pil terakhir hari itu. Sebelum tidur, sambil berdoa semoga besok masih bisa dapat lagi.
Ini rutinitas saya setiap hari selama 8 bulan. Bukan hidup—hanya survival mode.
Ketika Uang Habis, Harga Diri Ikut Dijual
Fentanyl tidak murah. Saya mulai dengan 50 ribu per pil, lalu naik jadi 75 ribu, lalu 100 ribu. Dalam sebulan, saya bisa menghabiskan 3 juta hanya untuk pil.
Tabungan habis dalam 4 bulan. Saya mulai meminjam uang dari teman dengan alasan macam-macam. Lalu pinjam dari bank. Lalu dari rentenir.
Yang paling memalukan: Saya mencuri uang dari tas ibu saya sendiri.
Saya ingat betul malam itu. Ibu tidur di sofa sambil menonton TV, tas terbuka di sampingnya. Di dalam tas ada 200 ribu—uang belanja untuk seminggu.
Tangan saya bergetar saat mengambil uang itu. Air mata mengalir, tapi saya tetap mengambilnya. Karena tanpa uang itu, saya tidak bisa beli fentanyl. Dan tanpa fentanyl, saya akan mati kesakitan.
Itulah yang dilakukan fentanyl pada manusia: mengubah kita menjadi monster bahkan untuk orang yang paling kita cintai.
4 Menit 23 Detik di Ambang Kematian
Pil yang Mengubah Segalanya
15 Maret 2022. Hari yang tidak akan pernah saya lupakan, meski saya tidak ingat sebagian besarnya.
Dealer biasa saya sedang kosong stock. Dia mengarahkan saya ke supplier baru. "Barang lebih kuat," katanya. "Dosisnya cukup setengah pil."
Saya tidak mendengarkan peringatan itu.
Kebiasaan saya minum 2 pil sekaligus kalau stress berat. Hari itu saya baru saja dipecat dari kantor karena performance yang menurun drastis. Saya stress maksimal.
Jadi saya minum 2 pil sekaligus, seperti biasa.
Yang tidak saya tahu: pil itu mengandung fentanyl murni dengan kadar 10 kali lipat dari biasanya.
4 Menit di Dunia Lain
Yang saya ingat setelah menelan pil itu:
Menit 1: Euforia luar biasa. Lebih kuat dari biasanya. Saya pikir, "Wah, barang bagus nih."
Menit 2: Pandangan mulai kabur. Tubuh terasa sangat berat. Saya duduk di tepi tempat tidur.
Menit 3: Napas mulai sulit. Jantung berdetak lambat. Saya mulai panik, tapi tubuh tidak merespons.
Menit 4: Gelap total.
Yang terjadi selanjutnya, saya tahu dari cerita kost-mate saya, Budi.
Dia pulang jam 19:30 dan mendengar suara aneh dari kamar saya—seperti orang mendengkur, tapi tidak normal. Dia ketok pintu, tidak ada jawaban. Pintu tidak terkunci.
Dia menemukan saya di lantai kamar mandi, wajah biru, mata terbuka tapi kosong, napas sangat pelan dan dangkal.
Budi panik dan langsung telepon ambulans.
Paramedis bilang saya sudah tidak bernyawa selama sekitar 4 menit sebelum mereka berhasil membuat jantung saya berdetak lagi dengan defibrilator dan suntikan naloxone berkali-kali.
4 menit 23 detik. Itulah berapa lama saya mati.
Kembali dari Kematian: Bangun di Neraka yang Sesungguhnya
ICU: Ketika Realita Menghantam
Saya bangun 2 hari kemudian di ICU dengan selang oksigen di hidung dan kabel-kabel menempel di dada. Kepala pusing luar biasa, mulut kering, tapi yang paling menyakitkan adalah tatapan mata ibu yang duduk di samping tempat tidur.
Matanya merah, bengkak karena menangis berhari-hari. Dia pegang tangan saya erat-erat, seolah takut saya akan menghilang lagi.
"Alex," bisiknya dengan suara serak. "Dokter bilang kamu hampir tidak bisa diselamatkan. Jantungmu berhenti berdetak selama hampir 5 menit."
Di momen itu, untuk pertama kalinya dalam 8 bulan, saya benar-benar sadar betapa dalamnya lubang yang telah saya gali untuk diri sendiri.
Withdrawl: Neraka Sesungguhnya Baru Dimulai
Dokter menjelaskan bahwa saya mengalami overdosis fentanyl parah. Mereka tidak akan memberikan obat apapun yang mengandung opioid—termasuk untuk mengatasi withdrawal.
"Cold turkey," kata dokter. "Satu-satunya cara."
Tiga hari berikutnya adalah neraka yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata:
- Keringat dingin mengalir 24 jam non-stop sampai tempat tidur basah kuyup
- Diare yang tidak bisa dikontrol, sampai saya malu pada perawat yang harus membersihkan
- Nyeri otot seperti ditusuk jarum di setiap inci tubuh
- Insomnia total selama 72 jam—mata tidak bisa terpejam sedetik pun
- Kecemasan yang membuat saya ingin melompat dari jendela lantai 5
Yang paling menyiksa: craving atau keinginan untuk menggunakan fentanyl lagi. Bahkan saat tubuh saya sekarat karena withdrawal, otak saya tetap berteriak: "Pil satu aja, cuma satu, pasti langsung sembuh."
Inilah yang paling mengerikan dari fentanyl: dia tidak hanya meracuni tubuh, tapi merampas jiwa dan akal sehat Anda.
Jalan Panjang Menuju Kebebasan
Rehabilitasi: Belajar Hidup Tanpa Racun
Setelah 1 minggu di RS, saya masuk program rehabilitasi rawat inap selama 3 bulan. Ini bukan liburan mewah—ini boot camp untuk jiwa yang rusak.
Hari 1-30: Detoksifikasi Mental
- Terapi kelompok setiap hari, mendengar cerita pecandu lain yang sama mengerikannya
- Belajar mengidentifikasi trigger yang membuat saya ingin pakai lagi
- Olahraga untuk mengembalikan fungsi tubuh yang rusak
- Meditasi untuk menenangkan pikiran yang kacau
Hari 31-60: Rebuilding
- Terapi individual dengan psikolog untuk mengatasi trauma dan depresi
- Belajar skill coping yang sehat untuk stress
- Rekonsiliasi dengan keluarga yang sudah saya sakiti
- Pelatihan kerja untuk mempersiapkan hidup setelah rehab
Hari 61-90: Preparation for Real World
- Simulasi situasi yang bisa memicu relapse
- Membangun support system yang kuat
- Merencanakan hidup baru tanpa fentanyl
Moment of Truth: Tes Pertama di Dunia Nyata
Hari pertama keluar dari rehab, saya langsung dihadapkan pada ujian berat. Di stasiun bus, ada cowok yang saya kenal—dealer lama.
"Alex! Lama nggak ketemu. Lu udah sembuh kan? Gue ada barang baru nih, lebih aman dari yang dulu."
Jantung saya berdebar. Tangan berkeringat. Kaki bergetar.
Selama 10 detik, saya berdiri di persimpangan jalan: kembali ke neraka yang hampir membunuh saya, atau melangkah maju ke kehidupan baru yang penuh ketidakpastian.
Saya memilih hidup.
"Maaf bro, gue udah berhenti total." Saya berbalik dan naik bus tanpa menoleh lagi.
Itu adalah kemenangan pertama saya melawan fentanyl. Kecil, tapi sangat bermakna.
2 Tahun Kemudian: Hidup yang Tidak Pernah Saya Bayangkan
Apa yang Saya Dapatkan dengan Berhenti
Sekarang, 2 tahun setelah saya "mati," inilah yang saya miliki:
Hubungan yang Diperbaiki:
- Ibu saya tersenyum lagi saat melihat saya
- Saya bisa dipercaya keluarga untuk pegang uang
- Punya pacar yang tahu seluruh cerita kelam saya tapi tetap menerima
- Teman-teman lama mulai menghubungi lagi
Kesehatan yang Kembali:
- Berat badan naik 15 kg (dulu kurus kering karena fentanyl)
- Kulit tidak pucat dan berjerawat lagi
- Bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk
- Energi untuk olahraga dan aktivitas normal
Karier yang Bangkit:
- Dapat pekerjaan baru di perusahaan yang memahami masa lalu saya
- Performance bagus karena pikiran jernih
- Bisa menabung lagi—uang tidak habis untuk beli racun
Mental yang Sehat:
- Tidak bangun dalam keringat dingin lagi
- Bisa menikmati hal-hal sederhana: kopi pagi, film, ngobrol sama keluarga
- Punya tujuan hidup selain mencari pil berikutnya
- Yang paling penting: saya punya masa depan
Satu Hal yang Tidak Akan Pernah Hilang: Memori Neraka
Tapi jangan salah paham—saya tidak "sembuh total" dalam artian bisa santai dan melupakan semua ini.
Setiap hari saya masih berjuang.
Kadang, saat stress berat atau sedih mendalam, otak saya masih berbisik: "Ingat betapa enaknya dulu pakai fentanyl? Semua masalah langsung hilang."
Tapi sekarang saya punya senjata melawan bisikan itu:
- Foto saya di ICU dengan selang oksigen
- Nomor telepon sponsor dari NA (Narcotics Anonymous)
- Memori wajah ibu yang menangis di samping tempat tidur
- Yang terpenting: ingatan tentang 4 menit 23 detik saat saya mati
Pesan untuk Anda: Jangan Percaya Bohong yang Sama
Untuk yang Belum Pernah Coba: Jangan Mulai
Jika Anda membaca ini dan belum pernah menyentuh fentanyl—syukurilah dan pertahankan itu.
Jangan percaya mitos-mitos ini:
- "Cuma sekali doang, pasti bisa kontrol" → BOHONG. Saya bilang sama hal 8 bulan yang lalu
- "Gue beda sama pecandu jalanan" → SALAH. Fentanyl tidak peduli status sosial Anda
- "Gue akan berhenti sebelum parah" → MUSTAHIL. Saat Anda sadar sudah parah, biasanya sudah terlambat
Kenyataan pahit yang perlu Anda tahu:
- Tidak ada dosis "aman" untuk fentanyl jalanan
- Tidak ada dealer "terpercaya"—mereka semua menjual kematian
- Sekali coba bisa langsung overdosis—seperti Russian roulette dengan 5 peluru dari 6 kamar
Untuk yang Sedang Menggunakan: Anda Masih Punya Waktu
Jika Anda sedang membaca ini sambil gemetar karena lagi withdrawal, atau sedang high tapi mulai takut—dengarkan saya baik-baik:
Anda tidak sendirian. Anda tidak terlalu rusak untuk diselamatkan. Anda masih berharga.
Saya dulu berpikir saya terlalu dalam, terlalu rusak, terlalu memalukan untuk minta tolong. Saya pikir keluarga sudah tidak sayang lagi, teman-teman sudah muak, dan Tuhan sudah tidak peduli.
Semua itu SALAH.
Yang benar adalah:
- Keluarga Anda masih menunggu Anda pulang
- Ada orang yang peduli dan mau membantu tanpa menghakimi
- Ada jalan keluar, meski tampak mustahil
- Anda layak mendapat kehidupan yang lebih baik
Langkah Pertama Menuju Kebebasan
Kalau Anda siap bertarung untuk hidup Anda:
- Akui bahwa Anda butuh bantuan - yang terberat tapi paling penting
- Hubungi nomor ini SEKARANG:
- Hotline BNN: 184
- RSKO Jakarta: (021) 8092-9292
- Pusat Rehabilitasi BNN terdekat di kota Anda
- Ceritakan ke satu orang yang Anda percaya - keluarga, teman, atau pastor/ustaz
- Siapkan mental untuk proses yang tidak mudah - tapi 100% worth it
- Buang semua stock dan kontak dealer - bakar bridge-nya
Ingat: Kematian karena overdosis tidak memberikan kesempatan kedua. Tapi selama Anda masih bernapas, masih ada harapan.
Penutup: Dari yang Pernah Mati untuk yang Masih Hidup
Saya menulis cerita ini dengan air mata. Tidak mudah membuka luka lama dan mempermalukan diri di depan umum.
Tapi saya melakukannya karena satu alasan: jika cerita ini bisa menyelamatkan satu nyawa saja, semua rasa malu saya worth it.
Untuk yang sedang berjuang melawan fentanyl: Anda adalah pahlawan yang sedang berperang melawan monster terkuat di dunia. Setiap hari Anda bertahan adalah kemenangan besar. Jangan menyerah.
Untuk keluarga pecandu: Cinta Anda tidak sia-sia. Dukungan Anda sangat berarti, meski mereka belum siap menerima sekarang. Jangan kehilangan harapan.
Untuk yang masih "bersih": Hidup Anda sekarang adalah anugerah yang tidak ternilai. Jangan pernah pertaruhkan untuk sesaat kesenangan palsu.
Fentanyl menjanjikan surga dalam 3 menit, tapi memberikan neraka selamanya.
Hidup menjanjikan perjuangan setiap hari, tapi memberikan kebahagiaan sejati.
Pilihan ada di tangan Anda. Pilih hidup. Saya sudah membuktikan bahwa itu mungkin.
Alex Setiawan
Survivor Fentanyl Overdose
Jakarta, September 2024
P.S. Saya masih hidup. Saya masih berjuang setiap hari. Dan saya akan terus bercerita sampai tidak ada lagi yang harus mati karena racun ini.
Untuk bantuan darurat overdosis: 118 atau 119
Untuk konsultasi kecanduan: BNN 184
Sumber Bantuan Lainnya:
- Badan Narkotika Nasional (BNN)
- World Health Organization - Substance Abuse
- SAMHSA National Helpline (Referensi internasional)
Jika cerita ini menyentuh hati Anda, tolong share ke orang-orang yang Anda sayangi. Selamatkan mereka sebelum terlambat.
Hashtags: #Fentanyl #FentanylAwareness #ceritakehidupan #Resonansi #narkotika #StopNarkoba #PemulihanKecanduan #KisahNyata
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Absurditas Jendela Kaca: Sebuah Narasi Kolektif tentang Isolasi di Era Transparansi
- Get link
- X
- Other Apps
